Kesalahan Saat Tinggal di Asrama

Kesalahan Saat Tinggal di Asrama

Tentang tinggal

Menjadi mahasiswa baru yang masih sangat awam dengan lingkungan kampus membawa saya akhirnya tinggal di asrama. Tidak terlalu buruk memang, selain karena biaya lebih murah, kita juga akan lebih mengenal dengan mahasiswa lain yang kebetulan satu angkatan. Menambah relasi pertemanan lah istilah kerennya. Akan tetapi, selama 2 semester tinggal di asrama, sebelum akhirnya harus terusir karena covid dan memang masa tinggal sudah habis, cukup membuat saya bisa merangkum hal apa saja yang seharusnya tidak dilakukan saat tinggal di asrama.

Sebenarnya apa kesalahan tingal di asrama

1. Pulang Terlalu Larut

Untuk mahasiswa yang aktif berorganisasi, sehingga harus menghabiskan banyak waktu di kampus untuk rapat kegiatan sampai tengah malam, tinggal di asrama adalah pilihan yang kurang tepat. Pasalnya, di asrama kita akan diatur oleh batas waktu sampai jam berapa semua penghuni boleh ada di luar gerbang asrama. Misalnya di asrama saya, semua tidak boleh pulang lebih dari jam 9 malam, tentu ini akan menjadi aturan yang cukup berseberangan dengan kegiatan yang saya ikuti di organisasi pers, dimana saat meliput acara yang diselenggarakan pada malam hari pasti pulang diatas jam 10 malam.

Tidak jarang pula saat itu saya bolak-balik dikunci dan tidak bisa masuk karena memang melanggar aturan, alhasil tidur di kosan teman menjadi satu-satunya pilihan yang bisa dilakukan. Memang, terkadang boleh izin jika akan pulang terlambat, namun pasti ada rasa tidak enak hati apabila itu dilakukan secara terus-menerus. Oleh karena itu, bagi yang mempunyai aktivitas seperti organisasi atau bekerja paruh waktu sampai malam, sebaiknya tidak tinggal di asrama.

2. Membawa Barang Terlalu Banyak

Ini kesalahan kedua yang dulu sempat saya lakukan. Setiap mudik ke rumah, pasti berangkatnya lagi akan membawa satu ransel penuh isinya barang-barang pribadi, dari mulai pakaian, sepatu, sandal dan buku-buku yang sebenarnya tidak penting-penting amat.

Selain akan membuat sesak ruang yang kita miliki di kamar, membawa barang terlalu banyak juga akan merepotkan diri kita sendiri saat nantinya harus pindah dari asrama. Toh sebenarnya barang-barang itu juga belum tentu kita pakai setiap harinya, seperti pakaian dan sepatu. Cukup bawa pakaian dan sepatu yang sekiranya memang akan dipakai untuk kegiatan formal di kampus dan beberapa potong pakaian santai. Toh tidak ada salahnya juga jika menggunakan pakaian yang itu-itu saja saat berkuliah, kan?

3. Tidak Memberi Nama pada Barang Pribadi

Tinggal berbagi ruangan dengan dua orang atau lebih, tentu akan lebih ribet dalam mengurus barang-barang pribadi kita dibandingkan dengan tinggal sendirian. Hal-hal yang terlihat kecil seperti handuk, sendok, gelas, piring, pulpen, Tipe-X dan sandal akan rawan tertukar dengan teman satu kamar apabila tidak teliti dalam menjaganya, terlebih saat barang-barang tersebut mempunyai bentuk atau warna yang sama.

Sebelum timbul perdebatan hanya karena masalah sepele, lebih baik kita inisiatif terlebih dahulu untuk mencantumkan nama kita dengan spidol permanen pada barang-barang yang kita miliki dan berpotensi rawan tertukar. Jika pun mereka akan meminjam, pun harusnya izin terlebih dahulu karena barang tersebut sudah jelas milik siapa.

4. Tidak Membawa Botol dan Pemanas Air

Ini benda yang sangat sepele memang, tapi memiliki fungsi yang luar biasa selama membantu saya saat tinggal di asrama. Ketika itu kebetulan saya ditempatkan pada kamar di lantai tiga dari empat lantai yang tersedia, sementara posisi galon air dan kompor ada di lantai paling bawah. Tentu akan menimbulkan rasa malas apabila harus repot-repot turun pada tengah malam hanya karena lapar atau haus.

Tidak membawa dua benda tersebut akan menimbulkan kerepotan tambahan bagi siapa saja yang tinggal di asrama, terlebih kamarnya lantai atas. Botol yang cukup besar bisa membantu kita untuk menyimpan persediaan air, utamanya saat tiba-tiba merasa haus dan malas keluar kamar untuk sekedar minum. Pun begitu dengan pemanas air, bisa menjadi penyelamat perut lapar dengan fungsinya yang selain untuk memasak air juga bisa digunakan untuk membuat mie instan (dengan catatan pemasak airnya bukan terbuat dari bahan plastik). Cukup mengisinya dengan air, colokkan pada stop kontak maka air akan mendidih dan bisa dipakai untuk membuat mie instan, urusan perut lapar pun bisa teratasi sementara waktu.